1. Hal pertama yang dia dahulukan adalah takwa (takut) kepada Allah, baik saat dia sendiri (sembunyi2) maupun di hadapan orang lain (terang2an) dengan bersikap hati2 (wara’) pada segala hal yang berhubungan dengan sumber makanan, minuman, pakaian, dan penghasilan yang ia peroleh
2. Dia pandai menyesuaikan diri dengan zaman dan perubahan orang2 yang ada di sekitarnya, sehingga dia tetap bisa berhati-hati/ teguh dalam agamanya.
3. Dia memperhatikan keadaan dirinya, selalu punya keinginan untuk mengubah dan memperbaiki apapun yang bisa merusak/ mengganggu keadaannya, selalu menjaga lisan dan ucapannya, dan pandai memilah-milih kata (yang layak untuk diucapkan).
4. Jika dia berbicara, dia berbicara dengan ilmu, ketika dia menganggap bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk bicara
5. Jika dia diam, dia diam dengan ilmu, ketika dia menganggap bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk diam.
6. Dia jarang menyibukkan diri pada hal2 yang bukan uru
sannya.
7. Dia jauh lebih takut akan(dosa yang bisa ditimbulkan) lisannya, melebihi rasa takutnya pada musuhnya.
8. Dia memenjarakan (memelihara) lisannya seperti halnya ia memenjarakan musuhnya, sehingga dia selamat dari keburukan dan kejahatan yang bisa ditimbulkan oleh lisannya.
9. Dia jarang tertawa pada hal2 yang kadang dan sering membuat orang banyak tertawa, dikarenakan dampak buruk dari banyak tertawa.
10. Jika dia senang pada sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran, dia tersenyum.
11. Dia tidak suka bercanda (yang berlebihan), takut bertindak sembarangan; jika dia bergurau, dia berkata benar (akan gurauannya).
12. Dia memiliki raut wajah yang peramah, lembut dan sopan dalam berkata-kata.
13. Dia tidak membiarkan dirinya dipuji dengan hal/kebaikan yang dia miliki, apatah lagi dengan hal yang dia tidak miliki?
14. Dia bersikap hati-hati akan dirinya sendiri. Dia bisa mengatasi keinginan dan hasratnya jika itu bisa menimbulkan murka dari Rabbnya.
15. Dia tidak suka memfitnah orang lain.
16. Dia tidak suka meremehkan/memandang rendah orang lain.
17. Dia tidak suka mendzalimi orang lain.
18. Dia tidak bergembira dengan kesusahan/ penderitaan orang lain
19. Dia tidak mengambil(melampaui) hak dan tidak iri pada orang lain.
20. Dia tidak menaruh prasangka/ berpikir buruk pada siapa pun, kecuali pada orang yang memang layak untuk itu.
21. Dia mencintai (sesuatu) dengan ilmu, dan membenci dengan ilmu.
22. Dia berbicara tentang kesalahan orang lain dengan ilmu, dan tetap diam jika menyangkut sifat dasar seseorang, juga dengan ilmu.
23. Dia menjadikan al-Qur-aan, Sunnah, dan Fiqh sebagai pedomannya untuk mencapai derajat kemuliaan menuntun dirinya agar menjauh dari segala hal yang dilarang oleh Allah.
24. Saat dia melangkah/ berjalan, dia berjalan dengan ilmu.
25. Jika dia duduk, dia duduk dengan ilmu.
26. Dia selalu bermujaahadah( bersungguh-sungguh dalam kebaikan) sehingga orang lain aman dari keburukan lisan dan tangannya.
27. Dia tidak bersikap acuh; jika seseorang mengacuhkannya, dia bersabar.
28. Dia tidak dzalim: jika dia didzalimi, dia memaafkan.
29. Dia tidak melanggar(mengambil) hak orang lain; jika haknya dilanggar, dia bersabar.
30. Dia bisa mengendalikan amarahnya demi (agar tidak mendapat murka) Rabbnya, dan membuat murka musuh2nya.
31. Dia bersikap tawadhu/ rendah hati pada dirinya sendiri: saat kebenaran dhadapkan padanya, dia menerimanya, meskipun kebenaran itu berasal dari lisan orang yang lebih muda maupun yang lebih tua darinya.
32. Dia meminta penghormatan (yang tinggi) dari Allaah, bukan dari makhluk .
33. Dia meninggalkan kesombongan, dan takut jika akan terjatuh ke dalamnya.
34. Dia bersyukur (qanaah) pada yang sedikit, sehingga dia selalu merasa berkecukupan.
35. Dia mengerjakan/ mengikuti kewajiban dari Qur-aan dan Sunnah:
a. Dia makan dengan ilmu.
b. Dia minum dengan ilmu.
c. Dia berpakaian dengan ilmu.
d. Dia memperlakuakan istrinya dengan ilmu.
e. Dia hidup bersama saudara-saudarnya [seiman] dengan ilmu.
f. Mengunjungi saudara2nya dengan ilmu.
g. Meminta izin [masuk ke rumah saudaranya] dengan ilmu.
h. Menyapa saudara2nya dengan ilmu.
i. Memperlakuan tetangganya dengan ilmu.
36. Dia berupaya/ berusaha keras untuk mentaati kedua orang tuanya:
a. Dia merendah di hadapan keduanya
b. Dia merendahkan suaranya di hadapan orang tuanya
c. Dia menafkahi orang tuanya
d. Dia menatap kedua orang tuanya denga pandanga penuh hormat/ takzim dan penuh kasih sayang.
e. Dia senantiasa berdoa agar keduanya diberi umur yang panjang
f. Dia berterima kasih/ tetap menghormati saat keduanya mencapai usia senja.
g. Dia tidak terganggu/ jengkel dengan keduanya.
h. Tidak menganggap hina keduanya.
i. JIka keduanya memintanya melakuan sesuatu dalam hal ketaatan (pada Alaah), dia membantu keduanya.
j. Jika keduanya memintanya melakuan sesuatu dalam hal kedurhakaan (pada Allaah), dia tidak melaksanakannya.
k. Dia tetap bersikap lemah lembut kepada keduanya, (meskipun) dalam ketidaktaatan mereka kepada Allaah.
l. Dia memperlihatkan sikap yang baik/ terpuji, sehingga bisa bisa mengubah hati kedua orang tuanya dari melakukan hal buruk yang tak bermanfaat yang mereka niatkan.
37. Dia menjaga hubungan keluarga dan berupaya untuk tidak merusaknya/ memutuskannya.
38. Jika orang lain memutuskan hubungan dengannya(memusuhinya), dia tidak berbalik memutuskan hubungan dengan mereka.
39. Jika seseorang tidak mentaati Allaah karena dirinya, dia mentaati AllaaH dengan dirinya.
40. Dia bersama orang2 beriman dengan ilmu, dan duduk bersama mereka dengan ilmu.
41. Dia memberi kebaikan/ manfaat pada orang yang bersamanya, dan menjadi saudara/ teman yang istimewa bagi orang2 yang duduk dengannya.
42. Jika dia mengajarkan ilmunya pada orang lain, dia bersikap lemah lembut.
43. Dia tidak memperbincangkan (kesalahan) orang yang membuat kesalahan (di hadapan orang lain), dan tidak mempermalukannya.
44. Dia bersikap lemah lembut dalam segala urusannya, sangat sabar dalam mengajarkan kebaikan.
45. Penuntut ilmu merasa nyaman dengannya, dan orang2 yang bersamanya merasa bahagia dengan kehadirannya.
46. Duduk bersamanya membawa kebaikan/ faedah.
47. Dia mengajarkan sahabat2nya [orang di sekitarnya] denga perilaku yang bersumber dari al-Qur-aan dan sunnah.
48. Jika dia menghadapi kesulitan, al-Qur-aan dan sunnah menjadi satu2nya penuntunnya.
49. Dia berduka cita dengan ilmu
50. Dia menangis dengan ilmu
51. Dia bersabar dengan ilmu
52. Da mensucikan dirinya dengan ilmu
53. Dia beribadah/ berdoa dengan ilmu
54. Dia memberikan zakat dan shadaqah dengan ilmu
55. Dia mengerjakan shaum dengan ilmu.
56. Dia menunaikan Haji dengan ilmu
57. Dia berperang [di jalan Allaah] dengan ilmu
58. Dia memeproleh penghasilan dengan ilmu, dan menggunakan [membelanjakannya] dengan ilmu
59. Dia melonggarkan segala urusannya dengan ilmu, dan mempereratnya dengan ilmu
60. Dia melihat setiap halaman al-Qur-aan untuk mengajarkan dirinya akhlak dan perilaku terpuji.
AL-QUR-AAN DAN SUNNAH TELAH MENGAJARKANNYA UNTUK BERSIKAP DAN MENJADIKAN KEDUANYA SEBAGAI ILMU DAN MEMAHAMI/ MANJADIKAN KEDUANYA SEBAGAI PEDOMAN DALAM SETIAP KEBAIKAN.
(Di sadur dari buku أخلاق حملة القرءان و أهله للآجري oleh Imaam Abu Bakr Al-Ajirri. Wafat: 360H)
Sumber: Blog Sahabat




Tidak ada komentar:
Posting Komentar